Selamat Datang

Selamat datang Saudara-saudaraku semuanya di blog "Puja-Puji" ini. Selamat menikmati, mencermati, dan mengoreksi sajian yang saya tampilkan dalam blog ini. Sekiranya Saudara berkenan memberi kritik, saran, komentar, dan masukan apa pun terhadap tampilan blog ini tentu saya merasa senang, bangga, dan terhormat, agar terjadi komunikasi dua arah. Silakan menuliskannya di tempat yang telah disediakan. Salam kami.

Selasa, 27 Juli 2010

Hang Tuah

          Hang Tuah merupakan cerita rakyat Melayu yang sudah ditulis menjadi hikayat dan puisi Indonesia modern oleh Amir Hamzah. Kisah Hang Tuah terjadi seputar abad XV hingga Abad XVII. Beberapa pakar sastra berbeda-beda mengkategorikan kisah Hang Tuah. Menurut Werndly (1736) Hikayat Hang Tuah adalah satu cerita tentang raja-raja Melayu. Roolvink menganggap kisah Hang Tuah sebagai karya sastra sejarah yang terdiri atas dongeng dan historis. Sementara itu, Valentijn (1726), E. Netscher (1854), Overbeck (1922), Hooykaas 91947), dan A. Teeuw (1960) menyetujui bahwa kisah Hang Tuah adalah sebuah roman yang melukiskan perbuatan pelakonnya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Liaw Yock fang (1991) menyetujui pendapat John Crawfurd (1811) bahwa kisah Hang Tuah sebagai roman sejarah (historical romance), sebab Hang Tuah sebenarnya seorang tokoh sejarah yang dapat dilihat dari buku Sejarah Melayu.

          Dalam buku Sejarah Melayu itu dikisahkan bahwa Hang Tuah berasal dari keluarga yang biasa saja. Akan tetapi, atas keberanian dan kegagahannya berperang melawan musuh, akhirnya Hang Tuah menjadi seorang pahlawan yang terkenal di Tanah Melayu. Ditambah pula bahwa Hang Tuah begitu taat dan setianya kepada raja yang tidak ada bandingnya. Pengabdian Hang Tuah kepada Raja Melayu yang begitu tulus itu membuat nama Hang Tuah semakin termasyhur di seluruh Nusantara. Hang Tuah menjadi teladan bagi orang-orang kebanyakan yang ingin mencapai derajat dan pangkat tinggi dalam negeri, yakni dari rakyat biasa hingga sebagai laksamana (panglima perang angkatan laut). Lama-kelamaan, kisah Hang Tuah itu hidup di masyarakat Melayu menjadi sebuah dongeng dengan menghilangkan sifat-sifat tercelanya, seperti sombong, takabur, dan tamak. Hal inilah yang mendorong Sulastin Sutrisno (1979) dari Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, membuat disertasi doktor tentang Hikayat Hang Tuah: Analisis Struktur dan Fungsi (terbit tahun 1983 oleh Gadjah Mada University Press).
          Hikayat Hang Tuah dimulai dari turunnya raja-raja keinderaan di bukit Siguntang. Sang Maniaka menjadi raja di Bintan. Hang Tuah pindah dari Sungai Duyung ke Bintan. Sewaktu masih muda Hang Tuah dan kawan-kawannya mampu mengalahkan para perompak (bajak laut), bahkan dia dapat membunuh ular Cinta Mani. Kemudian Hang Tuah dan kawan-kawannya mengabdi kepada raja Bintan. Pada suatu hari raja Bintan kedatangan Patih Krama Wijaya dari Jawa dan Wira Nantaya dari Daha yang disambutnya dengan meriah. Bahkan, Wira Nantaya pada saat itu diberi gelar “Ratu Melayu”.
          Selanjutnya, Raja Bintan berpindah ke Melaka dan mendirikan istana di sana. Pada suatu saat, Raja Melaka meminang Tun Teja, anak gadis dari Bendahara Indrapura. Namun, pinangan raja ini ditolak. Raja tidak putus asa, kemudian mengirim utusan ke Jawa untuk meminang putri Raja Majapahit. Pinangan diterima, tetapi Raja Melaka sendiri yang harus datang ke Majapahit menjemput putri pinangan. Hang Tuah ikut serta rombongan Raja Melaka datang ke Majapahit. Sesampainya di Majpahit, berkali-kali Hang Tuah diuji nyali keberanian dan kegagahannya melawan orang-orang Jawa. Batara Majapahir akhirnya berkenan memberi anugerah gelar Laksamana kepada Hang Tuah atas keperkasaannya. Di Jawa ini pun Hang Tuah sempat berguru kepada seorang pertapa untuk belajar ilmu kebatinan. Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit, Raja Malaka pun kembali ke negerinya dengan dikawal oleh Hang Tuah dan kawan-kawannya.
          Pada suatu ketika Hang Tuah difitnah telah melakukan perbuatan serong dengan seorang dayang istana. Raja Melaka murka kepada Hang Tuah dan menjatuhkan hukuman mati. Namun, Hang Tuah diselematkan oleh bendahara istana dan dilarikan ke Indrapura. Di Indrapura Hang Tuah menculik Tun Teja putri Bendahara Indrapura yang pernah disunting Raja Melaka tetapi ditolak. Hang Tuah berhasil membawa Tun Teja ke Melaka dan mempersembahkannya kepada Raja Melaka. Atas persembahan putri itu Raja Melaka berkenan di hati dan mengampuni Hang Tuah. Megat Panji Alam dari Trengganu, tunangan Tun Teja, mau melabrak ke Melaka atas diculiknya tunangannya oleh Hang Tuah. Akan tetapi, baru sampai di Indrapura sudah dapat dikalahkan oleh Hang Tuah dan kawan-kawannya.
          Dalam hikayat Hang Tuah ini banyak diceritakan akan kehebatan dan ketangguhan Hang Tuah menghadapi berbagai halangan dan tantangan. Satu-satu persatu semua persoalan yang dihadapi Hang Tuah dapat diatasnya dengan baik, termasuk melawan orang-orang Portugis yang hendak menguasai Melaka. Dalam hikayat Hang Tuah ini tokoh Hang Tuah tidak mati, bahkan dapat menjadi raja orang Batak. Namun, dalam puisi “Hang Tuah” karya Ami Hamzah yang terkumpul dalam buku Buah Rindu (1941) tokoh Hang Tuah gugur melawan bala tentara Portugis dan jasadnya dilarung di lautan Selat Melaka.
          Sajak “Hang Tuah“ karya Amir Hamzah tersebut sebagai berikut.
HANG TUAH
Bayu berpuput alun digulung
Bayu direbut buih dibubung

Selat Melaka ombaknya memecah
Pukul-memukul belah-membelah

Bahtera ditepuk buritan dilanda
Penjajab dihantuk haluan ditunda

Camar terbang riuh suara
Alkamar hilang menyelam segara

Armada Peringgi lari bersusun
Melaka negeri hendak diruntun

Galyas dan pusta tinggi dan kukuh
Pantas dan angkara ranggi dan angkuh

Melaka! Laksana kehilangan bapa
Randa! Sibuk mencari cendera mata!

“Hang Tuah! Hang Tuah! Di mana dia?
Panggilkan aku Kesuma Perwira!”

Tuanku Sultan Melaka, maharaja bintan!
Dengarkan kata Bentara Kanan.

“Tun Tuah, di Majapahit nama termasyhur,
badannya sakit rasakan hancur!”

Wah, alahlah rupanya negara Melaka
Karena Laksamana ditimpa mara.

Tetapi engkau wahai Kesturi
Kujadikan suluh, mampukah diri?

Hujan rintik membasahi bumi
Guruh mendayu menyedihkan hati.

Keluarlah suluh menyusun pantai
Angkatan Portugal hajat diintai

Cucuk diserang ditikam seligi
Sauh terbang dilempari sekali

Lela dipasang gemuruh suara
Rasakan terbang ruh dan nyawa

Suluh Melaka jumlah kecil
Undur segera mana yang tampil

“Tuanku, armada peringgi sudahlah dekat
Kita keluar dengan cepat.

Hang Tuah coba lihati
Apakah ‘afiat rasanya diri?”

Laksamana, Hang Tuah mendengar berita
Armada Peringgi duduk di kuala

Minta didirikan dengan segera
Hendak berjalan ke hadapan raja

Negeri Melaka hidup kembali
Buklanlah itu Laksamana sendiri

Laksamana, cahaya Melaka, bunga Pahlawan
Kemala setia maralah Tuan.

Tuanku, jadikan patik tolak bala
Turunkan angkatan dengan segera.

Genderang perang disurunya palu
Memanggil imbang iramanya tentu.

Keluarlah Laksamana mahkota ratu
Tinggallah Melaka di dalam ragu….

Marya! Marya! Tempik peringgi
Lela pun meletup berganti-berganti

Terang cuaca berganti kelam
Bujang Melaka sukma di selat!

Amuk-beramuk buru-memburu
Tusuk-menusuk laru-meluru

Lela rentaka berputar-putar
Cahaya senjata bersinar-sinar

Laksamana mengamuk di atas pusta
Yu menyambar umpamanya nyata….

Hijau segara bertukar warna
Silau senjata pengantar nyawa.

Hang Tuah empat berkawan
Serangnya hebat tiada tertahan.

Cucuk Peringgi menarik layar
Induk dicari tempat berhindar.

Angkatan besar maju segera
Mendapatkan payar ratu Melaka.

Perang ramai berlipat ganda
Pencalang berai tempat ke segala.

Dan Gurbenur memasang lela
Umpama guntur di terang cuaca

Peluru terbang menuju bahtera
Laksamana dijulang ke dalam segara….

(Amir Hamzah, 2000. Padamu jua. Jakarta: Grasindo, hlm. 7-11)

Jumat, 09 Juli 2010

Daftar Karya Tulis Puji Santosa

1. Karya Tulis Ilmiah yang Diujikan
  1.  “Rakyat Adalah Sumber Ilmu Karya W.S. Rendra: Sebuah Pendekatan Dikotomis”. (1984). Praskripsi Sarjana Muda, Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta. Ketua Penguji: Prof. Dr. Soediro Satoto, dengan predikat kelulusan: cumlaude.
  2. “Tabiat Tanda-Menanda dan Tafsir Amanat dalam Puisi ‘Rakyat Adalah Sumber Ilmu’ Karya Rendra: Sebuah Pendekatan Semiotika”. (1986). Skripsi Sarjana S-1, Jurusan Sastra Indonesia dan Filsafat, Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Surakarta. Ketua Tim Penguji: Dr. Soejatno Kartodirdjo, dengan predikat kelulusan: cumlaude.
  3. “Makna Kehadiran Nuh dalam Puisi Indonesia Modern”. (2002). Tesis Sarjana S-2, Magister Humaniora, Program Studi Ilmu Susastera, Bidang Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Pascasarjana, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Konsultan: Prof. Dr. Okke K.S. Zaimar, dan Ketua Tim Penguji: Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, dengan predikat kelulusan: sangat memuaskan.
2. Buku Terbit Ditulis Sendiri
  1. Teori Sastra (IKIP PGRI Madiun, 1986). Modul kuliah S-1.
  2. Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra (Bandung: Angkasa, 1993)
  3. Kisah Syeh Mardan (Jakarta: Departemen Pendidikan Kebudayaan, 1995)
  4. Pengetahuan dan Apresiasi Kesusastraan dalam Tanya-Jawab (Ende-Flores: Nusa Indah, 1996)
  5. Bahtera Kandas di Bukit: Kajian Semiotika Sajak-sajak Nuh (Surakarta: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003)
  6. Pandangan Dunia Darmanto Jatman (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)
  7. Menggapai Singgasana (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2007)
  8. Kekuasaan Zaman Edan: Derajat Negara Tampak Sunya-ruri. (Yogyakarta: Pararaton, 2010)
3. Buku Terbit Ditulis Bersama/Tim
  1. Panduan Belajar Bahasa Indonesia untuk SMP GBPP 1987 (Serial 6 Jilid) Ditulis bersama Drs. M.Dj. Nasution dan Dra. Erlis Nur Mujiningsih. (Jakarta: Yudhistira, 1990)
  2. Citra Manusia dalam Drama Indonesia Modern 1920–1960. Ditulis bersama Dr. Sumardi, M.Sc. dan Drs. Abdul Rozak Zaidan, M.A. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993)
  3. Analisis Sajak-Sajak J.E. Tatengkeng. Ditulis bersama Drs. Djamari. (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995)
  4. Soneta Indonesia: Analisis Struktur dan Tematik. Ditulis bersama Drs. Djamari (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996)
  5. Citra Manusia dalam Drama Indonesia Modern 1960–1980. Ditulis bersama Drs. S.R.H. Sitanggang, M.A. dan Drs. Zaenal Hakim (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997)
  6. Struktur Sajak-Sajak Abdul Hadi W.M. Ditulis bersama Dra. Anita K. Rustapa, M.A. dan Drs. Zaenal Hakim (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998)
  7. Unsur Erotisme dalam Cerita Pendek Taghun 1950-an. Ditulis bersama Drs. Abdul Rozak Zaidan, M.A. dan Dra. Erlis Nur Mujiningsih (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998)
  8. Terampil Berbahasa Indonesia untuk SMP. Ditulis bersama Dr. Sumardi M.Sc. dan kawan-kawan. (Yogyakarta: Mitragama, 2000)
  9. Drama Indonesia Modern dalam Majalah Indonesia, Siasat, dan Zaman Baru (1945–1965): Analisis Tema dan Amanat Disertai Ringkasan dan Ulasan. Ditulis bersama Agus Sri Danardana dan Zaenal Hakim (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2003)
  10. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Ditulis bersama Dra. Hj. Yusi Rosdiana, M.Pd., dan kawan-kawan (Jakarta: Universitas Terbuka Pusat, 2003)
  11. Puisi-Puisi Kenabian dalam Perekembangan Sastra Indonesia. Ditulis bersama Suryami dan Mardiyanto (Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2006)
  12. Menulis 2. Ditulis bersama Encep Kusumah dan Yeti Mulyati. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007)
  13. Pandangan Dunia Motinggo Busye. Ditulis bersama Agus Sri Danardana. (Bandarlampung: Kantor Bahasa Provinsi Lampung, 2008)
  14. Kritik Sastra: Teori, Metodologi, dan Aplikasi. Ditulis bersama Dr. Suroso dan Drs. Pardi Suratno, M.Hum. (Yogyakarta: Elmatera Publhising, 2009)
  15. Estetika: Sastra, Sastrawan, dan Negara. Ditulis bersama Dr. Suroso (Yogyakarta: Pararaton, 2009)
4. Beberapa Artikel, Esai, Kritik Sastra yang Terbit dalam Majalah/Jurnal
  1. “Berbagai Isu Tentang Pengajaran Sastra di Sekolah Menengah” (Bahasa dan Sastra Nomor 3 Tahun IX, 1992, hlm. 61–77).
  2. “Mitos Nabi Nuh di Mata Tiga Penyair Indonesia” (Bahasa dan Sastra Nomor 1 Tahun X, 1993, hlm. 55–66).
  3. “Nilai Budaya dalam Cerita Perpatih Nan Sebatang” (Bahasa dan Sastra Nomor 2 Tahun X, 1993, hlm. 38–50).
  4. “Aliran, Upacara, dan Pikiran Utama dalam Lakon Sandyakala Ning Majapahit” (Bahasa dan Sastra Nomor 3 Tahun XI, 1993, hlm. 37–54).
  5. “Refleksi Kekuasaan dan Ideologi dalam Kesusastraan” (Bahasa dan Sastra Nomor 2 Tahun XIV, 1996, hlm. 27–44).
  6. “Hakikat dan Fungsi Studi Sastra” (Bahasa dan Sastra Nomor 5 Tahun XIV, 1996, hlm. 41–59).
  7. “Citra Tokoh Wanita dalam Drama Indonesia Modern Periode Awal 1926–1945" (Bahasa dan Sastra Nomor 2 Tahun XVI, 1998, hlm. 49–72).
  8. “Kajian Asmaradana dalam Sastra Bandingan” (Bahasa dan Sastra Nomor 3 Tahun XVII, 1999, hlm. 30–50).
  9. “Analisis Stilistika Cerpen ‘Armageddon’ Karya Danarto” (Bahasa dan Sastra Nomor 4 Tahun XVIII, 2000, hlm. 17–37).
  10. “Analisis Stilistika Sajak ‘Pada Suatu Hari’ Karya Agus R. Sardjono” (Bahasa dan Sastra Nomor 4 Tahun XIX, 2001, hlm. 17–37).
  11. “Sastra Marginal dalam Peta Sejarah Kesusastraan di Indonesia” (Pangsura Bilangan 3/Jilid 2, Julai–Desember 1996, hlm. 50–57).
  12. “Iptek Itu Bermula dari Mitos: Mengenal Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono” (Pangsura Bilangan 4/Jilid 3, Januari–Juni 1997, hlm. 49–62).
  13. “Analisis Struktur Sajak ‘Pembicaraan’ Karya Subagio Sastrowardojo” (Pangsura Bilangan 6/Jilid 4, Januari–Juni 1998, hlm. 3–15).
  14. “Perkembangan Soneta di Indonesia dan Jatidiri Bangsa” (Pangsura Bilangan 9/Jilid 5, Julai–Desember 1999, hlm. 92–106).
  15. “Tuhan Kita Begitu Dekat” Karya Abdul Hadi W.M. Dalam Kajian Semiotika Riffaterre” (Pangsura Bilangan 13/Jilid 7, Julai–Desember 2001, hlm. 126–137).
  16. “Hanya Satu Karya Amir Hamzah dalam Analisis Semiotika Todorov” (Pangsura Bilangan 16/Jilid 9, Januari-Juni 2003, hlm. 46–70).
  17. “Cerita Pendek ‘Blencong’ Karya Dorothea Rosa Herliany: Sebuah Analisis Struktural” (MIBAS, Nomor 21/Tahun XI/1999, hlm. 29–50).
  18. “Reformasi Ideologi dan Kekuasaan dalam Kesusastraan” (Cakrawala Nomor 017 Tahun V, Desember 1999, hlm. 21–28).
  19. “Sumbangan Sastra Jawa dalam Menghadapi Zaman Edan” (Fenomena Nomor 2 Tahun 9, Agustus 2001, hlm. 212–234).
  20. “Dimensi Ketuhanan dalam Drama ‘Iblis’ dan ‘Kebinasaan Negeri Senja’” (Atavisme Nomor 1 Tahun 1, 1998, hlm. 1–15).
  21. “Refleksi Kekuasaan dan Ideologi dalam Kesusastraan” (Bahana Bilangan 215/Jilid 33, November 1998, hlm. 21–28).
  22. “Revitalisasi Sastra Marginal” (Kebudayaan Nomor 16 Tahun VIII, Maret 1999, hlm. 3–12).
  23. “Reformasi Ideologi dan Kekuasaan dalam Kesusastraan” (Kebudayaan Nomor 17 Tahun IX, Oktober 1999, hlm. 4–15).
  24. “Promosi Dunia Wisata dalam Puisi Indonesia” (Kebudayaan Nomor 18 Tahun IX, Maret 2000, hlm. 65–74).
  25. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Daerah dalam Jalan Menikung Karya Umar Kayam” (Kajian Linguistik dan Sastra Volume XII/ Nomor 22, Tahun 2000, hlm. 11–19).
  26. “Tuhan Kita Begitu Dekat” Karya Abdul Hadi W.M. Dalam Kajian Semiotika Riffaterre” (Kajian Linguistik dan Sastra Volume XIII/ Nomor 24, Tahun 2000, hlm. 122–131).
  27. “Empat Sajak Tentang Nabi Nuh: Sebuah Kajian Muatan Unsur Agama dalam Puisi Indonesia” (Horison Nomor 1 Tahun XXXI, Januari 1997, hlm. 13–20).
  28. “Riwayat Hidup Sapardi Djoko Damono: Perjalanan Seorang Penyair dan Intelektual” (Kakilangit Nomor 37, Februari 2000, hlm. 12–13).
  29. “Proses Kreatif Sapardi Djoko Damono: Bermain Kata Membentuk Dunia” (Kakilangit Nomor 37, Februari 2000, hlm. 14–15).
  30. “Riwayat Hidup Goenawan Mohamad: Penyair Cendekia yang Piawai Membikin Pasemon” (Kakilangit Nomor 39, April 2000, hlm. 12–14).
  31. “Proses Kreatif Goenawan Mohamad: Estetika Puisi Sebagai Pasemon” (Kakilangit Nomor 39, April 2000, hlm. 15–17).
  32. “Anekdot: Jam Malam Kawin” (Kakilangit Nomor 40, Mei 2000, hlm. 28).
  33. “Ulasan Novel Toha Mohtar: Kembali ke Akar Kembali ke Asal” (Kakilangit Nomor 41, Juni 2000, hlm. 7–9).
  34. “Riwayat Hidup Toha Mohtar (1926–1992): Sastrawan Bersahaja yang Piawai Melukiskan Suasana” (Kakilangit Nomor 41, Juni 2000, hlm. 10–11).
  35. “Proses Kreatif Toha Mohtar: Memadukan Realitas dengan Imajinasi” (Kakilangit Nomor 41, Juni 2000, hlm. 12–14).
  36. “Ulasan Novel Achdiat K. Mihardja: Benturan Dua Dunia” (Kakilangit Nomor 45, Oktober 2000, hlm. 8–10).
  37. “Proses Kreatif Achdiat K. Mihardja: Peran Orang Tua, Pendidikan, dan Karier” (Kakilangit Nomor 45, Oktober 2000, hlm. 11–13).
  38. “Riwayat Hidup Pengarang Achdiat K. Mihardja: Perjalanan Seorang Intelektua” (Kakilangit Nomor 45, Oktober 2000, hlm. 14–16).
  39. “Pengetahuan Sastra: Soneta Masa Pra-Pujangga Baru” (Kakilangit Nomor 46, Februari 2000, hlm. 25–27).
  40. “Ulasan Drama Trisno Sumardja: Peran Kaum Terpelajar di Awal Kemerdekaan” (Kakilangit Nomor 53, Juni 2001, hlm. 8–10).
  41. “Proses Kreatif Trisno Sumardjo: Kesenian Bukan Alat Mengejar Materi” (Kakilangit Nomor 53, Juni 2001, hlm. 11–13).
  42. “Riwayat Hidup Pengarang Trisno Sumardjo (1916–1969): Pejuang Kesenian yang Tekun” (Kakilangit Nomor 53, Juni 2001, hlm. 14–16).
  43. “Ulasan Puisi Darmanto Jatman: Sori Gusti: Keberagaman Tujuh Banjaran” (Kakilangit Nomor 75, Maret 2003, hlm. 8–10).
  44. “Proses Kreatif Darmanto Jatman: Pada Mulanya Adalah Suara” (Kakilangit Nomor 75, Maret 2003, hlm. 11–12).
  45. “Riwayat Hidup Pengarang Darmanto Jatman (1942– ): Penyair dengan Segudang Puisi dan Prestasi” (Kakilangit Nomor 75, Maret 2003, hlm. 13–14).
  46. “Hanya Satu” Karya Amir Hamzah dalam Analisis Semiotika Todorov” (Jurnal Internasional Pangsura, Brunei-Darussalam, Januari-Juni 2003, Bilangan 16/Jilid 9, hlm. 46—70)
  47. Proses Kreatif: “Memburu Misteri Lewat Cerita” (Kakilangit Nomor 99, Maret 2005, hlm. 8–9).
  48. Riwayat Hidup Pengarang Rijono Pratikto (1932—): “Nasib Tragis Seorang Cerpenis” (Kakilangit Nomor 99, Maret 2005, hlm. 10–11).
  49. “Tolok Ukur dalam Kritik Sastra” (Sawo Manila Nomor 1 Tahun 1, 2006. hlm. 40—46).
  50. “Estetika Resepsi, Metode, dan Penerapannya: Studi Kasus Resepsi Produktif Soneta Indonesia” (Suar Betang volume II, Nomor 1, Juni 2007, hlm. 1—18).
  51. “Maut dalam Tiga Buku Kumpulan Sajak Subagio Sastrowardojo” (Suar Betang volume II, Nomor 2, Desember 2007, hlm. 166—187).
  52. “Pembelajaran Sastra yang Menyenangkan dan Inivatif” (Suar Betang volume III, Nomor 1, Juni 2008, hlm. 73—88).
  53. “Mitologi Melayu Nusantara dalam Konteks Keindonesiaan” (Suar Betang volume III, Nomor 2, Desember 2008, hlm. 14—27).
  54. “Sapi Rela Disembelih di Negeri Tiada Cinta: Semangat Kebangsaan dalam Karya Sastra M. Balfas” (LOA Volume 6 Nomor 6, September 2008, hlm. 25—35).
  55. “Dasar-Dasar Apresiasi Sastra: Menyenangkan, Kreatif, dan Inovatif” (LOA Volume 7 Nomor 7, Juli 2009, hlm. 29—47).
  56. “Perlawanan Bangsa Terjajah Atas Harkat dan Martabat Bangsa: Telaah Postkolonial Atas Tiga Sajak Indonesia Modern” (Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra. Volume 12 Nomor 2, Desember 2009, hlm. 147—156)
  57. Ulasan Puisi: “Teladan Keutamaan bagi Wira Tamtama” (Kakilangit Nomor 157, Januari 2010, hlm. 5–-7).
  58. Proses Kreatif: “Sastra Sebagai Pendidikan Jiwa” (Kakilangit Nomor 157, Januari 2010, hlm. 8–-10).
  59. Riwayat Hidup Pengarang Sri Mangkunegara IV: “Sastrawan Pujangga dan Negarawan Bijak” (Kakilangit Nomor 157, Januari 2010, hlm. 11–-12).
  60. Ulasan Novel: “Benturan Dua Dunia” (Kakilangit Nomor 160, April 2010, hlm. 7–-8).
  61. Proses Kreatif Achdiat K. Mihardja: “Peran Orang Tua, Pendidikan, dan Karier” (Kakilangit Nomor 160, April 2010, hlm. 9–-10).
  62. Riwayat Hidup Pengarang Achdiat K. Mihardja (1911--...?): “Perjalanan Seorang Intelektual” (Kakilangit Nomor 160, April 2010, hlm. 11–-12).
  63. Ulasan Puisi: “Zaman Edan, Zaman Penuh Kutukan” (Kakilangit Nomor 161, Mei 2010, hlm. 6–-8).
  64. Proses Kreatif: “Belajar dari Lingkungan dan Pengalaman Hidup” (Kakilangit Nomor 161, Mei 2010, hlm. 9–-10).
  65. Riwayat Hidup Pengarang Ronggowarsito (1802—1873): “Pujangga Pamungkas Sastra Jawa Klasik” (Kakilangit Nomor 161, Mei 2010, hlm. 11–-13).
  66. Ulasan Cerpen: “Ketabahan Seorang Anak Ketika Ditinggal Mati Ibunya” (Kakilangit Nomor 163, Juli 2010, hlm. 6–-8).
  67. Proses Kreatif: “Pengalaman Hidup Sebagai Sumber Cerita” (Kakilangit Nomor 163, Juli 2010, hlm. 9–-10).
  68. Riwayat Hidup Pengarang Lukman Ali (1931—2000): “Guru yang Pakar Bahasa dan Sastra” (Kakilangit Nomor 163, Juli 2010, hlm. 11–-2).
  69. “Zaman Edan: Derajat Negara Suram” (Prosiding Workshop Forum Peneliti Dilingkungan Kemendiknas, Yogyakarta, 3—5 Maret 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementrian Pendidikan Nasional, 2010, hlm. 563—578)
5. Laporan Penelitian/Modul yang Tidak/Belum Terbit
  1. “Pengantar Teori dan Studi Kesusastraan” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1989/1990)
  2. “Analisis Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1990/1991)
  3. “Biografi Pengarang Mahatmanto dan Karyanya” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1993/1994)
  4. “Analisis Struktur dan Tematik Sajak-sajak Mahatmanto” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1994/1995)
  5. “Analisis Sajak-sajak dalam Majalah Mimbar Indonesia 1950–1954" (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1995/1996)
  6. “Analisis Sajak-sajak dalam Majalah Horison 1966–1970" (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 1996/1997)
  7. “Pandangan dan Karya Sastrawan Motinggo Busye” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2002)
  8. “Sastra Keagamaan dan Perkembangan Sastra Indonesia Modern: Puisi 1945–1965.” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2003)
  9. “Mitologi Melayu dalam Puisi Indonesia Modern” (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2004)
  10. Modul Kuliah “Kritik Sastra” (Fakultas Sastra Universitas Nasional, Jakarta, 2005)
  11. Modul Kuliah: “Berbahasa Indonesia dengan Santun, Benar, dan Baik” (Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara, Jakarta, 2009)
6. Makalah Disampaikan dalam Berbagai Pertemuan
  1. “Kritik Sastra Pada Puisi-Puisi Kontemporer” (Makalah disampaikan dalam Sarasehan Hari Sastra, Himpunan Mahasiswa Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 28 April 1984).
  2. “Puisi-puisi Indonesia 1980-an dan Kecenderungannya” (Makalah disampaikan dalam Dialog Penyair Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, 7–8 No-vember 1989).
  3. “Penelitian Sastra dengan Menggunakan Angket” (Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, 8 Juni 1991).
  4. “Berbagai Isu Tentang Pengajaran sastra di Sekolah” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) IV Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI, Bandung-Lembang, 12–15 Desember 1991).
  5. “Pengajaran Apresiasi Puisi di SMP Kurikulum 1984" (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) V Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI dan Universitas Pakuan, Bogor, 15–17 Desember 1992).
  6. “Analisis Masalah Upacara, Aliran, dan Pikiran Utama dalam Lakon Sandyakala Ning Majapahit Karya Sanusi Pane” (Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, 10 Juli 1993).
  7. “Hakikat dan Fungsi Studi Sastra” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) VI Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Yogyakarta, Kaliurang-Yogyakarta, 12–16 Desember 1993).
  8. “Refleksi Kekuasaan dan Ideologi dalam Kesusastraan” (Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Bahasa, Sastra, dan Ideologi, HISKI Komda Jakarta dan Universitas Nasional, Jakarta, 18 Mei 1996).
  9. “Sastra Marginal dalam Peta Sejarah Kesusastraan di Indonesia” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) VII Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Pusat, Parung-Bogor, 3–5 September 1996).
  10. “IPTEK Itu Bermula dari Mitos: Mengenal Sajak-Sajak Sapardi Djoko Damono” (Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia VI, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, HPBI Pusat, Bandung, 12–15 Desember 1996).
  11. “Si Elok Selandang Dunia Sabai Nan Aluih: Citra Tokoh Wanita dalam Drama Sabai Nan Aluih Karya Tulis Sutan Sati” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) VIII Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Padang, Padang, 12–14 Desember 1997).
  12. “Promosi Kepariwisataan Indonesia dalam Puisi” (Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia VIII, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, HPBI Pusat dan Unes, Semarang, 21–23 Juli 1998).
  13. “Asmaradana: Matra Puisi Jawa Klasik dan Pengaruhnya Terhadap Puisi Nasional” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) IX Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Semarang, Bandungan, 22–24 Oktober 1998).
  14. “Kedudukan dan Fungsi Bahasa Daerah dalam Sastra Indonesia” (Makalah disampai-kan dalam Kongres Linguistik Nasional IX, MLI Pusat, Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, 28–31 Juli 1999).
  15. “Pengajaran Sastra di Sekolah dan Tantangan Abad yang Akan Datang” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) X Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Pusat dan Pusat Bahasa, Jakarta, 18–20 Oktober 1999).
  16. “Pelanggaran HAM dan Penyalahgunaan Kekuasaan” (Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Sastra dan HAM, HISKI Komda Jakarta dan Universitas Indonesia, Depok, 29 April 2000).
  17. “Pegajaran Sastra dalam Era Globalisasi” (Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia X, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia, HPBI Pusat dan Pusat Bahasa, Jakarta, 27–29 September 2000).
  18. “Kekuasaan, Ideologi, dan Politik dalam Dunia Kesusastraan” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) XI Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Surakarta, 2–3 Oktober 2000).
  19. “Sumbangan Sastra Jawa dalam Menghadapi Zaman Edan” (Makalah disampaikan dalam Kongres Bahasa Jawa III. Pemda DIY, Yogyakarta, 15–21 Juli 2001).
  20. “Kabar Yang Bertolak dari Realitas: Politik dan Gerakan Mahasiswa dalam Sajak-Sajak Taufiq Ismail” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia XXIII, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, 9–10 Oktober 2001).
  21. “Sastra Indonesia dalam Pluralisme Budaya” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) XII Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Komda Sumatera Utara, Medan, 5–7 November 2001).
  22. “Wacana Desentralisasi dalam Sastra: Wacana Tinggallah Wacana” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Daerah (PILDA) dan Musyawarah Daerah (MUSDA) HISKI Komda DKI, Universitas Nasional, Jakarta, 3 Agustus 2002).
  23. “Wacana Desentralisasi dalam Sastra: Persoalan Politis atau Persoalan Sastra” (Ma-kalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) XIII Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, 8–10 September 2002).
  24. “Pluralisme Budaya dalam Sastra Indonesia Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia XXIV, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Tawangmangu-Solo, 15–16 Oktober 2002).
  25. “Estetika Kasunyatan dalam “Serat Warisan Langgeng” Karya R. Soenarto Merto-wardojo” (Makalah disampaikan dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusan-tara VII, Manassa dan Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, Bali, 28–30 Juli 2003).
  26. “Pengembangan Teori Sastra Bangesgresem: Sebuah Alternatif Teori Sastra Lokal Genius” (Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Nasional (PILNAS) XIV Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia, HISKI Pusat dan Fakultas Sastra Univer-sitas Airlangga, Hotel Santika, Surabaya, 26–28 Agustus 2003).
  27. “Multikulturalisme Sastra Indonesia Modern Memantapkan Peran Sastra Indonesia Modern dalam Mengahadapi Budaya Global” (Makalah dalam Kongres Bahasa Indonesia VIII, Jakarta, 14–17 Oktober 2003, Kelompok B, Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2003: 1–20)
  28. “Pembelajaran Apresiasi Sastra Berbasis Kompetensi” (Makalah disampaikan dalam “Seminar Nasional Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di Aula Universitas Nasional, Jakarta, 19–20 Maret 2004).
7. Artikel dan Esai dalam Buku Antologi
  1. Dendy Sugono dan Suladi (editor). 2000. Kiprah HPBI 2000: Bahasa Indonesia, Negara, dan Era Globalisasi (Jakarta: HPBI-Pusat).
  2. Soediro Satoto dan Zainuddin Fanani (editor). 2000. Sastra: Ideologi, Politik, dan Kekuasaan (Surakarta: Muhammadiyah University Press).
  3. Sujarwanto dan Jabrohim (editor). 2002. Bahasa dan Sastra Indonesia Menuju Peran Transformasi Sosial Budaya Abad XXI. Yogyakarta: Panitia PIBSI XXIII, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Gama Media.
  4. B. Trisman et al (editor). 2003. Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indo-nesia Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  5. T.Cristomy dan Untung Yuwono (penyunting). 2004. Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Indonesia.
  6. Ibnu Wahyudi (editor). 2004. Menyoal Sastra Marginal. Jakarta: Wedatana Widya Sastra dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia Pusat.

Jumat, 05 Februari 2010

Sastrawan Kalteng dalam Peta Sastra Nasional

BEBERAPA hari yang lalu, akhir bulan Juli 2008, saya membaca sepintas tulisan Saudara Udo Z. Karzi di internet. Awalnya saya membuka blog yang ditulis Udo dengan bahasa daerah, dan saya kurang paham dengan bahasa daerah apa. Hal itu tidak saya hiraukan karena saya kurang paham dan tidak mengerti makna bahasa daerah itu. Lalu, awal bulan Agustus 2008 saya membaca lagi tulisan Saudara Udo yang bertajuk “Dicari Sastra(wan) Kalteng” lewat cabiklunik.blogspot.com yang bersumber dari surat kabar Borneonews, Senin, 4 Agustus 2008, lalu timbul hasrat saya untuk sedikit memberi informasi tentang keberadaan sastrawan Kalteng dalam peta sastra nasional kita.

Ketika temu sastra Majelis Sastera Asia Tenggara di Palangkaraya, Senin, 14 Juli 2008, yang lalu saya mengatakan kepada media bahwa “aktivitas sastra di Kalimantan Tengah sepi”. Hal ini apabila dibandingkan dengan provinsi tetangga sesama Kalimantan, yaitu Kalimantan Selatan atau Kalimantan Timur. Sastrawan Kalimantan Tengah yang hingga kini telah mengorbit secara nasional hanya ada tiga, yaitu Fridolin Ukur (asal Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur), Haji Ahmad Badar Sulaiman Usin, lebih dikenal dengan nama HABSU (asal Pulang Pisau), dan J.J. Kusni (asal Kasongan, Kabupaten Katingan). Apa dan siapa ketiga tokoh sastrawan Kalteng tersebut, silakan membuka laman Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, dengan alamat: www.balaibahasaprovinsikalteng.org, lalu klik Tokoh.

Dua dari tiga sastrawan asal Kalteng itu kini telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, yaitu Fridolin Ukur dan HABSU. Sementara J.J. Kusni yang juga memiliki nama samaran K. Sulang, telah lama meninggalkan Indonesia dan kini bermukim di Perancis. Mereka bertiga muncul dan diorbitkan oleh H.B. Jassin sebagai Angkatan 66. Tentu karya-karya mereka dapat ditemukan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Selain ada di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, karya-karya mereka juga dapat ditemukan di dokumentasi sastra Korrie Layun Rampan, di Bekasi, dan dokumentasi ini akan dipindahkan oleh Korrie ke Samarindra, Kalimantan Timur.

Ketika E.U. Kratz dari School of Oriental and African Studies (SOAS) London meregistrasi karya-karya sastra Indonesia yang terdapat di majalah dan surat kabar, yang kemudian diterbitkan dalam buku A Bibliography of Modern Indonesian Literature in Journals (1988), hanya tercantum dua nama dari Kalimantan Tengah, yaitu Edmond Sawong dan K.Sulang (nama samaran J.J. Kusni). Hal ini kita maklumi bahwa yang dicatat oleh Kratz terbatas pada majalah yang sampai ke London atau terbatas yang ada di PDS H.B. Jassin sampai tahun 1970-an. Padahal, apabila kita telusuri ke surat kabar nasional atau lokal hingga tahun 2000-an, tentu banyak nama para sastrawan Kalimantan Tengah yang ada, separti Abdul Fatah Nahan, Kurnia Untel (Buntok, Muara Teweh), Alimul Huda, Dafi Fadjar Rahardjo, Elsy Suarni, Suyitno BT, Sandi Firly (Kuala Pembuang, Seruyan), Dedy Setiawan (Sukamara), Agung Catur, Luthfi, Makmur Anwar, Supardi, Pahit S. Narratoma, Lukman Hakim Siregar, dan Bajik Rubuh Simpei.

Untuk mengangkat sastra(wan) Kalimantan Tengah mengorbit ke pentas sastra nasional akhir-akhir ini Korrie Layun Rampan menawarkan partisipasi Kalteng ikut dalam Dialog Borneo-Kalimantan 2009 di Samarindra, Kalimantan Timur. Ajakan ini disambut baik oleh teman-teman sastrawan Kalimantan Tengah yang tergabung dalam Ikatan Sastawan Sastra Indonesia (ISASI) Kalimantan Tengah untuk mengikuti kegiatan itu dengan cara mengumpulkan cerpen, puisi, fragmen novel, esai, dan kritik sastra ke alamat Korrie Layun Rampan, Pemimpin Redaktur Koran Sentawar Pos, Karang Rejo RT III Kampung Sendawar 75576, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Selain itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada akhir-akhir ini untuk menyemarakkan Tahun Bahasa 2008, juga melakukan kegiatan pemasyarakatan apresiasi sastra agar Kalteng dikenal secara nasional maupun mendunia, seperti Dialog Sastra dengan Sastrawan Danarto (Kapuas dan Palangkaraya, Maret 2008), Temu Sastra Majelis Sastera Asia Tenggara bersama sastrawan Hamsad Rangkuti (Palangkaraya, Juli 2008), Bedah Buku Kumpulan Cerpen karya Sandi Firly (Palangkaraya, Mei 2008), Seminar Apresiasi Sastra (Palangkaraya, Februari dan April 2008), Bengkel Penulisan Cerpen (Tamiang Layang dan Buntok, April dan Mei 2008), Bengkel Musikalisasi Puisi (Sampit dan Buntok, Mei dan Juli 2008), Siaran Tebaran Sastra di RRI Palangkaraya yang diasuh oleh Makmur Anwar setiap Minggu malam, Lomba Baca Puisi Guru SD se-Kalteng (Palangkaraya, Agustus 2008), Lomba Musikalisasi Puisi Siswa SLTA se-Kalteng (Palangkaraya, Agustus 2008) pemenang pertama dikirim ke tingkat nasional di Jakarta (Oktober 2008), Sayembara Cipta Cerpen Remaja Tingkat Kalimantan Tengah 2008 (sepuluh nominasi diikutsertakan ke tingkat Nasional di Jakarta), Sayembara Cerita Rakyat Kalimantan Tengah 2008, dan penulisan Ensiklopedia Sastra Indonesia dan Daerah di Kalimantan Tengah yang akan diterbitkan bersamaan dengan Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta pada Oktober 2008, serta penghargaan Tokoh Sastra 2008.

Sepinya aktivitas sastra di Kalimantan Tengah ada berbagai penyebab, antara lain, media massa lokal tidak memberi tempat untuk memublikasikan karya-karya mereka. Para pengusaha media massa lokal menganggap sastra tidak bernilai ekonomis, lebih baik memuat iklan, pengumuman lelang, berita kegiatan para pejabat yang sering memberi donatur pada mereka, dan kegiatan pariwara yang lain agar pengusaha media massa memperoleh keuntungan secara ekonomis. Kami tidak sampai berpikiran tentang kaya miskin, materialistis, penduduk Kalteng seperti pikiran Udo Z. Karzi dalam tulisannya di Borneonews itu.

Tidak ada hubungannya permintaan kami agar media massa berkenan membuka rubrik seni budaya dan sastra di media massa dengan kehidupan masyarakat miskin di Kalimantan Tengah. Oleh karena itu, saya mengharapkan agar media massa, cetak maupun elektronik, lokal dan nasional, sudi kiranya membuka ruangan seni budaya, khususnya sastra(wan) Kalteng dalam satu minggu sekali. Ini semata-mata untuk memajukan peradaban bangsa, mempertinggi budi pekerti bangsa agar lebih bermartabat, dan tetap bersatu dalam pertahanan budaya dan nilai-nilai luhur budaya bangsa, serta Kalimantan Tengah dikenal secara nasional dan internasional.

Upaya Pembinaan dan Pengembangan Sastra di Kalteng 2008

TAHUN 2008 ditetapkan sebagai Tahun Bahasa karena bertepatan dengan 100 tahun (satu abad) kebangkitan nasional, 80 tahun (10 windu) Sumpah Pemuda, dan 60 tahun Pusat Bahasa berkiprah dalam bidang kebahasaan dan kesastraan untuk lebih memartabatkan bangsa melalui jalur bahasa. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun kini sudah berumur satu windu atau delapan tahun, mulai operasional tahun 2000 dengan nama Kantor Bahasa Palangkaraya, bersama masyarakat Kalimantan Tengah membangun bangsa yang lebih beradab dan bermartabat melalui pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra, Indonesia dan Daerah, di Provinsi Kalimantan Tengah.

Dalam rangka menyemarakkan Tahun Bahasa 2008, hari ulang tahun ke-63 Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (17 Agustus 1945—17 Agustus 2008), dan 51 tahun Provinsi Kalimantan Tengah, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menggelar berbagai kegiatan kebahasaan dan kesastraan di di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah pada sepanjang tahun 2008 ini. Kegiatan kebahsaan dan kesastraan ini dinamai “Semarak Tahun Bahasa 2008: Merdeka! dan Merdeka!”.

Tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk membangkitkan minat masyarakat Kalimantan Tengah terhadap kegiatan kebahasaan dan kesastraan, meningkatkan apresiasi dan kreativitas masyarakat Kalimantan Tengah dalam pembelajaran bahasa dan sastra, menumbuhkan-kembangkan sikap positif, bangga, dan rasa cinta dengan bahasa dan sastra milik sendiri, serta memupuk rasa solidaritas untuk semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tema kegiatan ini adalah “Melalui pembelajaran bahasa dan sastra, Indonesia dan Daerah, kita tingkatkan minat baca masyarakat Kalimantan Tengah dalam rangka menyemarakkan Tahun Bahasa 2008 dan sekali Merdeka! tetap Merdeka!”.

Sepanjang tahun 2008 Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah telah melakukan kegiatan kebahasaan dan kesastraan. Diawali tahun 2008 Balai Bahasa melaksanakan temu sastrawan Kalimantan Tengah untuk bersama-sama membicarakan tawaran Korrie Layun Rampan agar berperan serta dalam Dialog Sastarawan Kalimantan-Borneo di Samarindra tahun 2009. Para anggota Ikatan Sastrawan Kalimantan Tengah (ISASI) yang diketuai oleh Drs. Supardi akan ikut aktif dalam kegiatan tersebut.

Untuk menghidupkan kegiatan Forum Bahasa Media Massa (FBMM) Kalimantan Tengah dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kalimantan Tengeh, Balai Bahasa pun ikut berperan serta dalam kegiatan diskusi kebahasaan yang diselenggarakan di kantor Redaksi Kalteng Pos, 16 Februari 2008 dan 9 Juni 2008. Diskusi yang pertama disiarkan secara langsung oleh Radio KPFM selama dua jam. Diskusi kebahasaan yang kedua di selenggarakan di RRI Palangkaraya, Sabtu, 19 April 2008, dan sekaligus disiarkan secara langsung selama dua jam. Kegiatan lain adalah Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) terhadap 85 wartawan yang mengikuti Karya Latihan Wartawan (KLW) di Sampit, 30 Maret 2008, serta Seminar Bahasa Media Massa di Palangkaraya pada hari Senin, 9 Juni 2008, dengan mendatangkan Kepala Pusat Bahasa, Dr. Dendy Sugono, Ketua FBMM Pusat, TD Asmadi, dan Kepala Kantor Bahasa Kalimantan Timur, Drs. Pardi, M.Hum., serta pembicara dari Universitas Palangkaraya, Drs. H. Lukman Hakim Siregar.

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun sangat peduli terhadap pembinaan, pengembangan, pemeliharaan, dan pelestarian bahasa Daerah. Untuk keperluan ini Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga telah menggelar Seminar Nasional Bahasa Dayak di Palangkaraya pada tanggal 10 Juni 2008 dengan menghadirkan pembicara Drs. Hardy Rampay, M.Si., Dr. Arnosianto M. Mage, M.A., Dr. Petrus Poerwadi, M.S., dan Drs. Yohanes Kalamper. Hasil seminar ini merekomendasikan untuk diadakan Kongres Bahasa Dayak secara internasional di Palangkaraya pada tahun 2009 atau 2010 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah.

Untuk meningkatkan mutu pengguna bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama bahasa persuratan dan tata dinas, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga telah melaksanakan penyuluhan Bahasa Indonesia kepada masyarakat Kalimantan Tengah, yang diikuti oleh guru-guru nonbahasa dan kepala tata usaha sekolah dan kepala tata usaha dinas kabupaten, di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, 27—29 Maret 2008, dan di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, 12—14 Mei 2008. Untuk penyegaran Bahasa Indonesia para pejabat di lingkungan pemerintah provinsi dan kabupaten, dimulai dari pejabat eselon IV dan III, dan pemayarakatan Bahasa Indonesia untuk pelaku pembuat reklame, papan nama, spanduk, baliho, dan media ruang publik, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah telah merencanakan kegiatan ini dengan Biro Kesra Pemda Provinsi Kalteng yang diwakili oleh Kepala Bagian Bina Sosial Pemda Prov. Kalteng pada tanggal 16—17 Juli 2008 di Jakarta.

Selain penyuluhan Bahasa Indonesia, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2008 ini juga melaksanakan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) kepada guru, karyawan, siswa SMK di kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, 12 April 2008, dan di Kabupaten Sukamara, 23 Juli 2008, serta para peserta pemilihan Duta Bahasa dan Duta Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2008, pada tanggal 20 Mei 2008 di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah. Para peserta pemilihan duta bahasa dan duta pariwisata ini juga dibekali keterampilan berbahasa Indonesia, berbahasa daerah, dan juga berbahasa Inggris agar mampu mengemban tugas dan misinya memperkenalkan Kalimantan Tengah di dunia internasional.

Pembinaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan nasional tidak hanya kepada masyarakat pribumi atau warga negara Republik Indonesia, tetapi juga bagi para penutur asing. Para turis manca negara dan pekerja asing pun perlu mendapatkan pembinaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga menyosialisasikan dan mengembangkan Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) kepada masyarakat dan calon pengajar BIPA di Palangkaraya, 1 April 2008, dan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, 25 Juni 2008.

Dalam upaya meningkatkan mutu apresiasi siswa dan guru bahasa Indonesia SLTP dan SLTA, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah tidak tinggal diam di tempat. Bersama beberapa sastrawan Kalimantan Tengah kami bekerja sama menyelenggarakan “Bengkel Penulisan Kreatif Cerita Pendek Remaja” di Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, tempat kelahiran sastrawan nasional Fridolin Ukur, pada tanggal 2—4 April 2008, dan di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, 14—15 Mei 2008. Tidak hanya bengkel penulisan kreatif cerita pendek remaja, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah juga menyelenggarakan “Bengkel Musikalisasi Puisi” bagi siswa SLTP dan SLTA dan juga gurunya, di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, 28—29 Juli 2008.

Sementara itu, untuk meningkatkan mutu apresiasi sastra masyarakat Kalimantan Tengah, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah bekerja sama dengan MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Palangkaraya menyelenggarakan Seminar Apresiasi Sastra yang Menyenangkan dan Inovatif, di Palangkaraya, Sabtu, 16 Februari 2008, diikuti lebih dari 300 guru, mahasiswa, dan sastrawan, serta menyelenggarakan Dialog Sastra bersama sastrawan sufistik Danarto, di Kuala Kapuas, 19 Maret 2008 dan di Palangkaraya, 20 Maret 2008 yang diikuti lebih dari 100 orang peminat sastra.

Masih bekerja sama dengan MGMP Bahasa Indonesia SMK Kota Palangkaraya, ditambah dengan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) FKIP Universitas Palangkaryara, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menyelenggarakan bedah buku kumpulan cerpen Perempuan yang Memburu Hujan karya sastrawan asal Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Sandi Firly, pada tanggal 7 Mei 2008 yang dilanjutkan debat seru dengan para peserta bedah buku.

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun ikut juga memeriahkan Seminar Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kesastraan yang diselenggarakan oleh FKIP Universitas Palangkaraya, dalam memeriahkan hari Chairil Anwar, 28 April 2008, yang diikuti peserta lebih dari 450 orang, dengan pembicara Drs. Puji Santosa, M.Hum., dan Dr. Petrus Poerwadi, M.S., serta moderator Drs. Lukman Hakim Siregar.

Pembinaan peningkatkan apresiasi sastra bagi masyarakat Kalimantan Tengah terus kami upayakan. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 14 Juli 2008, kami selenggarakan Temu Sastra Majelis Sastera Asia Tenggara bersama sastrawan nasional Hamsad Rangkuti. Dalam temu sastra ini juga kami hadirkan sastrawan karungut dari Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kurnia Untel. Kegiatan ini diikuti lebih dari 150 orang dan diliput oleh berbagai media massa lokal dan nasional.

Kegiatan lomba dan sayembara pun kami laksanakan guna meningkatkan mutu apresiasi sastra masyarakat Kalimantan Tengah pada tahun 2008 ini. Beberapa kegiatan lomba dan sayembara tersebut adalah sebagai berikut.
Sayembara Penulisan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Tahun 2008. Sayembara cerita rakyat ini bertujuan menggali potensi budaya nilai-nilai kearifan lokal (lokal genius) Kalimantan Tengah. Kegiatan ini hanya diikuti 18 peserta dengan Juri Abdul Fatah Nahan (penulis cerita rakyat), Dr. Petrus Poerwadi, M.S. (pakar cerita rakyat Kalimantan Tengah), dan Dra. Nani Setiawati, M.Si. (penulis nasional cerita rakyat Kalteng). Ketiga juri tersebut memutuskan cerita rakyat: “Anggir Sarangga” karya Janang memenangkan hadiah Harapan III, “Bawi Kambang dan Bawi Ranjau” karya Yuni Sri (SMP PGRI) memenangkan hadiah Harapan II, “Leniri” karya Nisa Noorlela (SMAN 2 Pahandut) memenangkan hadiah Harapan I, “Indu Mien” karya Mega Melita T (SMAN 1 Pahandut) memenangkan hadiah ke-3, “Liang Saragi” karya Dwi Jelita Natalya Saragi (SMP Katolik Santo Paulus) memenangkan hadiah ke-2, dan cerita rakyat “Legenda Desa Mintin” karya Tri Arfayanti, S.Pd. (MTsN 1 Model Palangkaraya) memenangkan hadiah pertama. Karya para pemenang lomba ini semua dikirimkan ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan sejenis pada tingkat nasional.

Sayembara Cipta Cerpen Remaja Se-Kalimantan Tengah tahun 2008 bertujuan menggali potensi kreatif remaja dalam menyalurkan bakat dan prestasinya dibidang kebahasaan dan kesastraan. Kegiatan ini diikuti oleh 38 peserta dengan juri Drs. Supardi, Elsy Suarni, S.Pd., dan Pahit S. Narattama, S.Hut., memutuskan sepuluh nominasi cerpen remaja terbaik se-Kalimantan Tengah. Adapun kesepuluh cerpen terbaik tingkat Kalimantan Tengah itu adalah “Bujang Si Anak Desa” karya Pratiwi Indah Surya Meida (SMAN 3 Jekanraya), “Liku-Liku Emosional Seorang Guru” karya Tri Yuni (SMAN 3 Jekanraya), “Lentera Terakhir” karya Nurul Hatimah (SMAN 3 Jekanraya), “Pertemuan Terencana” karya Rakhmawati Aulia (SMAN 3 Kuala Kapuas), “Misteri Dompet Kita” karya Ridha Mawadah (SMAN 1 Tamiang Layang), “Keputusan Terbaik” karya Bela Santa Rossi (SMAN 1 Tamiang Layang), “Gita Cinta dan Cita” karya Normantie (SMAN 1 Pahandut), “Kembar Pengantin” karya Evie Novitasari (SMAN 1 Pahandut), “Inilah Hidupku” karya Oktavina (SMAN 1 Pahandut), dan “Bunga untuk Mama” karya Sheilla Marlyana (MTsN Buntok). Kesepuluh cerpen tersebut akan diikutkan kegiatan yang sama di tingkat nasional, yakni dikirim ke Jakarta mengikuti sayembara sejenis.

Kepada semua pemenang sayembara tulis-menulis tersebut saya harapkan betul-betul sebagai karya asli mereka sendiri, bukan saduran, jiplakan, atau plagiator. Dari Panitia Sayembara Penulisan Cerita Rakyat tersebut saya peroleh laporan ada peserta yang mengirimkan ceritanya bukan karya aslinya sendiri, karya orang lain yang diaku miliknya. Kebetulan jurinya membaca dan itu adalah karya dari salah satu juri, Bapak Abdul Fatah Nahan. Tentu perbuatan ini sangat tercela, tidak terpuji, dan jangan sampai terulang lagi.

Lomba Baca Puisi Guru SD diadakan di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada tanggal 12—13 Agustus 2008. Pesertanya adalah guru SD se-Kalimantan Tengah, dan diikuti oleh 35 orang peserta. Dewan Juri yang diketuai oleh Drs. Makmur Anwar M.H. dengan anggota Elsy Suarni, S.Pd., dan Suyitno B.T. memutuskan Alfisyah (MIN Model Pahandut Palangkaraya) sebagai pemenang Harapan III, Mudjiasri, A.Ma. (SDN 8 Palangka) sebagai pemenang Harapan II, Suryo Sulistianto (SD Katolik Santa Don Bosco Palangkaraya) sebagai pemenang Harapan I, Ernawati, S.Ag. (MIN Model Pahandut Palangkaraya) sebagai pemenang III, Sumiatun Hartini, S.Pd. (MIN Model Pahandut Palangkaraya) sebagai pemenang II, dan Abdullah T., S.Ag. (MIN Langkai Palangkaraya) sebagai pemenang pertama. Penilaian juri meliputi penghayatan (40%), penampilan (30%), dan vokal (30%). Seluruh peserta lomba baca puisi guru SD ini juga akan dibekali pengetahuan tentang penulisan esai pengajaran bahasa dan sastra untuk mengikuti lomba di Jakarta dan penulisan puisi siswa SD oleh Kepala Balai Bahasa Kalteng.

Lomba Musikalisasi Puisi Siswa SLTP dan SLTA diadakan pada tanggal 19—20 Agustus 2008. Pesertanya adalah siswa SLTP dan SLTA se-Kalimantan Tengah yang diikuti oleh 13 kelompok musikalisasi. Dewan Juri yang diketuai oleh Dafi Fajar Rahardjo, S.Sn., dengan anggota Agung Catur Prabowo, M.Hut., dan M. Alimulhuda (sastrawan dan pekerja seni teater), memutuskan kelompok musikalisasi: “Muzika” SMAN 3 Jekanraya memenangkan Harapan III, “Fana Ferias” MTs Model Palangkaraya memenangkan Harapan II, “D’Best One” SMPN 2 Pahandut memenangkan Harapan I, “Mandera” MAN Model Palangkaraya memenangkan hadiah ke-3, “Penyang” SMAN 2 Jekanraya memenangkan hadiah ke-2, dan “Zukatair” SMAN 2 Pahandut memenangkan hadiah Pertama. Pemenang Pertama Lomba Musikalisasi Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah ini berhak menjadi duta Kalimantan Tengah dan akan dikirim ke tingkat nasional untuk mengikuti Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional pada tanggal 22—24 Oktober 2008 di Jakarta.

Kepada seluruh pemenang sayembara dan lomba kami ucapkan selamat atas prestasi yang diraihnya. Pada hari Rabu dan Kamis, 27—28 Agustus 2008 seluruh pemenang diundang ke Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah untuk menerima hadiah dan tampil dihadapan para hadirin menyampaikan buah karya yang diraihnya. Kami hanya dapat memberi penghargaan berupa Piagam Penghargaan, Piala, Buku-buku terbitan Pusat Bahasa, dan uang pembinaan ala kadarnya. Kami juga mengharapkan kepada semua pemenang untuk tetap dan terus berkarya dan berkarya menunjukkan prestasinya. Jangan hanya berhenti sampai di sini. Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah hanya memacu dan mendorong kreativitas, semangat berkarya, dan berprestasi yang lebih unggul dan lebih baik lagi, syukur-syukur hingga jenjang nasional ataupun internasional.

Penghargaan Tokoh Kebahasaan dan Kesastraan diberikan oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2008 ini kepada tokoh masyarakat Kalimantan Tengah yang berjasa terhadap pengembangan dan pembinaan bahasa dan sastra di Kalimantan Tengah. Penghargaan ini semata-mata diberikan kepada tokoh berdasarkan: hasil karya kebahasaan dan kesastraan, kuantitas karya, kualitas karya, konsistensi dan komitmen dalam bidangnya, aktivitasnya dalam mengembangkan bahasa dan sastra, baik sastra Indonesia maupun sastra Daerah di Kalimantan Tengah, serta kharisma yang dimiliki tokoh tersebut. Sebagai ucapan syukur dan rasa terima kasih Balai Bahasa Kalteng kepada tokoh yang turut serta membantu pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra di Kalimantan Tengah perlu diberi penghargaan ini. Tokoh penerimaan penghargaan dari Balai Bahasa Kalteng ini diminta memberikan orasi/pidato penerimaannya pada pembukaan Puncak Acara Semarak Tahun Bahasa 2008 dalam Pekan Bahasa dan Sastra 2008 yang diadakan pada tanggal 27 Agustus 2008. Kedua tokoh yang berhak menerima penghargaan dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah ini adalah Prof. H.K.M.A.M. Usop, M.A. dan Drs. Makmur Anwar M.H.

Pekan Bahasa dan Sastra 2008 adalah salah satu kegiatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka menyemarakkan Tahun Bahasa 2008. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Jalan Tingang Km 3,5, Palangkaraya, pada tanggal 27—28 Agustus 2008. Dalam Pekan Bahasa dan Sastra 2008 ini ditampilkan: (1) Orasi/pidato kebahasaan/kesastraan oleh dua tokoh penerima Penghargaan Kebahasaan dan Kesastraan 2008 dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, (2) Pembacaan Cerita Pendek Remaja hasil 10 nominasi Sayembara Cipta Cerpen Remaja 2008 Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah, (3) Pembacaan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah hasil pemenang Sayembara Penulisan Cerita Rakyat Kalimantan Tengah Tahun 2008, (4) Pentas Baca Puisi Guru SD hasil pemenang Lomba Baca Puisi Guru SD Tahun 2008, (5) Pentas Musikalisasi Puisi hasil pemenang Lomba Musikalisasi Puisi Siswa SLTP dan SLTA se-Kalimantan Tengah tahun 2008, dan (6) Pentas Teater dari Sanggar Teater Terapung pimpinan Saudara M. Alimul Huda dan Agung Catur Prabowo, M.Hut. Sedianya kami juga akan menyelenggarakan Parade Pidato Mahasiswa tentang “Peran Generasi Muda dalam Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra dalam Upaya Memperkokoh Kesatuan dan Persatuan Bangsa”. Pidato mahasiswa ini ditiadakan karena kegiatannya diundur pada bulan Oktober 2008.

Pada bulan Oktober 2008 Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah masih menyisakan kegiatan: (1) Pidato Mahasiswa, (2) Bulan Bahasa dan Sastra di SMAN 1 Tamiang Layang, (3) Pengiriman Duta Bahasa Provinsi Kalteng ke ajang Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional, di Jakarta, (4) Pengiriman Kelompok Musikalisasi Puisi dari SMAN 1 Pahandut, Palangkaraya, ke ajang Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional, di Jakarta, (5) Pameran Kebahasaan dan Kesastraan di arena Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28—1 November 2008, (6) Penulisan Ensiklopedia Sastra Kalimantan Tengah, dan beberapa penelitian dan penyusunan kebehasaan dan kesastraan Kalimantan Tengah.

Itulah beberapa upaya yang dilakukan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah bersama-sama masyarakat membangun bangsa yang lebih beradab dan bermartabat melalui pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra, Indonesia dan Daerah, di Kalimantan Tengah.

Kamis, 04 Februari 2010

Ranggawarsita dan Proses Kreatif


Proses kreatif penulisan karya-karya Ranggawarsita dimungkinkan oleh lingkungan, asal-usul keturunan, dan pengalaman hidupnya. Ranggawarsita berasal dari keluarga bangsawan Keraton Surakarta. Dari garis keturunan ayah, dia adalah keturunan ke-10 dari Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), pendiri kerajaan Pajang. Dari garis keturunan ibu, dia adalah keturunan ke-13 Sultan Trenggana, raja Demak ketiga. Dari Sultan Trenggana ini menurunkan Pangeran Karang Gayam, pujangga kerajaan Pajang, yang telah menulis Serat Niti Sruti, yakni sebuah buku sastra yang berisi ajaran tentang etika kehidupan.
Ranggawarsita terlahir dengan nama Bagoes Boerhan adalah putra Pangeran Pajangswara, seorang juru tulis kerajaan Surakarta, yang biasa disebut dengan Yasadipura III. Kakek Bagoes Boerhan adalah Raden Tumengung Sastranegara atau biasa disebut Yasadipura II adalah seorang pujangga kerajaan yang banyak menulis karya sastra Jawa klasik, seperti Sasana Sunu dan Wicara Keras. Sementara itu, kakek buyutnya adalah Raden Tumenggung Yasadipura I, seorang pujangga besar kerajaan Surakarta yang menghasilkan karya sastra Jawa klasik, antara lain, Babad Giyanti, Dewa Ruci, Panitisastra, Serat Rama, dan Baratayuda. Dua karya terakhir disadur dalam versi Jawa dari kisah klasik Ramayana dan Mahabharata.
          Kakek dari pihak ibu, Soedirodihardjo, adalah seorang ahli tembang (seni suara) dan gending (musik gamelan Jawa). Kakek dari pihak ibu ini adalah pemaian vokal yang ulung di zamannya dan dikenal dengan sebutan “Soedirodihardjo Gantang”. Pada waktu-waktu tertentu Pak Gantang duduk di dalam sebuah kurungan dan ditarik ke atas pohon besar di dekat bangsal istana. Dari atas pohon itulah Pak Gantang melagukan tembang-tembang yang menggema ke seluruh istana. Mereka yang mendengarkannya selalu berdecak kagum atas suara merdu mendayu Pak Gantang. Atas keahlian yang dimilikinya itu Pak Gantang mampu menghasilkan lagu khas gending Jawa yang disebut dengan cengkok Palaran (gaya Palaran). Nama Palaran ini diambil dari nama desa tempat Pak Gantang tinggal, yaitu Desa Palar, sekitar 30 Km arah barat daya kota Surakarta.
          Dari garis keturunan atau asal-usul jelas tidak mengherankan apabila Bagoes Boerhan tertarik dan menekuni minatnya di dunia seni sastra. Menjelang awal abad XIX di Jawa menjadi masa-masa puncak berkembangnya genre sastra Jawa Klasik yang disebut dengan sastra Islam Kejawen. Istilah ini mengacu pada sebuah tradisi tulis yang mencoba memasukkan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam tradisi warisan Hindu-Budha yang telah dibudaya Jawa-kan. Akar tradisi Islam Kejawen, atau Jawi Selam, sudah ada sejak zaman kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu kerajaan Demak. Melalui jasa para wali (Wali Sanga) penyebaran agama Islam di Jawa diadaptasikan dengan kultur budaya setempat seperti dengan istrumen tembang, wayang, dan gamelan Jawa.
          Sejak usia 2 hingga 12 tahun Bagoes Boerhan diasuh oleh kakeknya, Tumenggung Jasadipura II, sehingga sejak usia dini sudah diperkenalkan dengan dunia tulis-menulis atau sastra. Hal ini ditunjang oleh lingkungan tempat tinggal Bagoes Boerhan yang sedang giat-giatnya mengembangkan dunia sastra. Bagoes Boerhan berada di sekitar para tokoh sastra Jawa Klasik yang menjadi pilar kesusastraan Jawa sehingga mudah mencerna dan mengembangkannya. Di bawah asuhan kakeknya, tentu secara khusus, Bagoes Boerhan dididik tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia sastra, tembang, wayang, dan kebudayaan Jawa umumnya untuk dipersiapkan menjadi tokoh sastra masa depan.
          Pengalaman sehari-hari Ranggawarsita dalam menempuh perjalanan hidupnya banyak yang dituangkan dalam karya sastra yang ditulisnya, antara lain, Serat Jayengbaya, Kalatidha, dan Jaka Lodhang. Serat Jayengbaya, misalnya, adalah sebuah puisi panjang yang terdiri atas 250 bait. Dalam puisi naratif ini Ranggawarsita berkisah tentang seseorang yang sedang mencari jatidiri. Tokoh cerita ini merasa kedudukannya sekarang dalam kesusahan, yang merefleksikan atas hidupnya sendiri, dan membayangkan profesi lain yang menurutnya lebih enak, mulai dari pedagang kuda, penari, pemusik, prajurit, raja, bahkan menjadi Tuhan sekalipun. Namun, setiap kedudukannya itu, selain menawarkan kesenangan dan kenikmatan, juga mengandung resiko yang tampaknya tidak akan mampu ditanggungnya. Akhirnya, setelah direnungkan secara dalam, si tokoh memutuskan yang terbaik adalah menjadi diri sendiri.
          Tidak hanya pengalaman hidupnya sehari-hari yang dituangkan dalam karya sastra yang ditulis Ranggawarsita, tetapi juga pesanan raja sebagai pujangga istana. Dalam hal ini Ranggawarsita menulis, antara lain, Serat Paramayoga, Serat Pustaka Raja Purwa, dan Serat Cemporet. Sastra yang ditulis itu berusaha mengangkat derajat negara dan raja melalui kisah simbolik dalam dunia wayang. Serat Paramayoga mengisahkan perjalanan Nabi Adam beserta kisah kehidupan para dewa, sampai kemudian tanah Jawa mulai dihuni menusia dengan kedatangan Aji Saka, dari Himalaya, India, ke tanah Jawa.
          Buku sastra Pustaka Raja Purwa, merupakan kelanjutan kisah yang ada dalam Serat Paramayoga. Raja Aji Saka yang telah mampu menakhlukan raja Medangkamulan, Prabu Dewatacengkar hingga tenggelam di samudra selatan menjadi buaya putih, menurunkan raja-raja di tanah Jawa hingga sekarang kita kenal dalam sejarah. Dalam buku itu juga dikisahkan tentang muncul dan tenggelamnya berbagai kerajaan yang ada di Jawa. Dalam kisah raja-raja di Jawa itu juga banyak bertaburan legenda-legenda yang terjadi di tanah Jawa. Tentu saja kedua buku seperti itu dimaksudkan untuk melegitimasi kekuasaan raja-raja di Jawa dengan menciptakan mitos sebagai keturunan Nabi Adam dan para dewa, seperti kaisar Jepang sebagai keturunan Dewa Matahari (Amaterasu Omikami).
          Serat Cemporet ditulis Ranggawarsita atas permintaan Raja Paku Buwana IX. Dalam Serat Cemporet ini Ranggawarsita mengisahkan petualangan tiga orang putra raja yang tengah lari dari istana dan berguru di padepokan milik Ki Buyut Cemporet. Tentu saja kisah ini dipersembahkan kepada raja agar anak-anak raja tidak hanya tinggal bertopang dagu di istana, tetapi ke luar istana untuk berguru ilmu kanuragan atau ilmu kabatinan lainnya. Hal ini secara tersirat dilukiskan dalam petualangan ketiga anak raja yang sakti dan mampu menaklukan berbagai rintangan. Akhirnya, ketiga anak raja itu kembali ke istana memimpin negara dengan penuh kearifan.
          Ranggawarsita menulis ramalan tentang negara dan bangsa Indonesia melalui karya sastranya Serat Jaka Lodhang. Ramalan yang terkenal dengan istilah “Jangka Ranggawarsitan” ini mengisahkan keadaan negara yang serba kacau balau, karut marut, banyak bencana terjadi, dan penderitaan yang berkepanjangan. Suatu saat akan datang kemenangan bangsa bumi putra atas penjajahan asing, tahun yang diperkirakan adalah 1877 Saka atau awal tahun 1946 Masehi. Kenyataannya bangsa Indonesia dapat bebas, merdeka, dari penjajahan pada 17 Agustus 1945, hanya terpaut beberapa bulan dari apa yang diramalkan Ranggawarsita.