Selamat Datang

Selamat datang Saudara-saudaraku semuanya di blog "Puja-Puji" ini. Selamat menikmati, mencermati, dan mengoreksi sajian yang saya tampilkan dalam blog ini. Sekiranya Saudara berkenan memberi kritik, saran, komentar, dan masukan apa pun terhadap tampilan blog ini tentu saya merasa senang, bangga, dan terhormat, agar terjadi komunikasi dua arah. Silakan menuliskannya di tempat yang telah disediakan. Salam kami.

Jumat, 29 Januari 2010

Angkatan Sastra

Angkatan adalah penamaan suatu kelompok sastrawan sezaman yang karyanya menunjukkan ciri yang sama, sepaham mengadakan kegiatan sastra atau kebudayaan, atau sekolompok sastrawan yang mempunyai cita-cita yang sama, baik secara sadar atau tidak, dalam suatu zaman yang sama dan bertindak dalam satu kesatuan yang berpengaruh pada suatu masa tertentu. Dalam bahasa Inggris dan Perancis disebut generation atau dalam bahasa Belanda generatie. Istilah lain dalam bahasa Indonesia adalah generasi.

Secara umum penamaan suatu kelompok sastrawan yang sepahaman menjadi angkatan didasarkan pada prinsip yang sama mendasari karya-karya para sastrawan sezaman, misalnya para sastrawan yang menulis pada tahun 1920-an dan karya-karyanya diterbitkan oleh Balai Pustaka dengan tema persoalan adat maka dinamakan Angkatan Balai Pustaka, para sastrawan yang menulis pada tahun 1930-an yang mengadakan gerakan semangat kebangsaan dan kemajuan kebudayaan yang terwadahi dalam majalah Pujangga Baru maka dinamakan Angkatan Pujangga Baru, dan sekelompok sastrawan yang mulai aktif menulis di seputar meletusnya revolusi fisik Indonesia tahun 1945-an dan menyatukan sikap dan pikirannya ke dalam lembaran “Gelanggang” majalah Siasat maka dinamakan Angkatan 45 atau Angkatan Gelanggang.

Dalam catatan sejarah sastra Indonesia modern terdapat dua ragam penamaan angkatan, yaitu (1) penamaan angkatan atas dasar tahun penerbitan karya sastra, misalnya Angkatan 20, Angkatan 33, Angkatan 45, Angkatan 50, Angkatan 63, Angkatan 66, Angkatan 70, Angkatan 80, dan Angkatan 2000, dan (2) penamaan angkatan atas dasar yang lainnya, misalnya nama penerbit yang aktif tahun 1920-an: “Angkatan Balai Pustaka”, judul buku karya sastra yang dianggap puncak pada zamannya: “Angkatan Siti Nurbaya”, nama majalah yang terbit tahun 1930-an: “Angkatan Pujangga Baru”, nama tokoh pelopor sastra pada zaman revolusi fisik tahun 1945: “Angkatan Chairil Anwar”, nama lembaran kebudayaan dalam majalah Siasat yang memuat karya para sastrawan zamannya: “Angkatan Gelanggang”, nama suatu zaman yang dianggap berbeda dari yang sudah ada dan karya itu terbit tahun 1950-an: “Angkatan Terbaru”, dan nama suatu peristiwa penanda tnganan Manifesto Kebudayaan pada tahun 1963: “Angkatan Manifes”. Secara umum nama angkatan dalam sastra Indonesia modern yang sering disebut-sebut, yang populer hingga kini, dalam pelajaran sekolah dan mata kuliah sejarah sastra Indonesia di perguruan tinggi adalah Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga baru, Angkatan 45, Angkatan 66, dan Angkatan 2000.

Angkatan Balai Pustaka adalah nama yang diberikan kepada sejumlah sastrawan yang produktif menulis pada tahun 1920-an yang karya-karyanya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Sastrawan yang berhasil menerbitkan karyanya di Balai Pustaka pada waktu itu, antara lain, Abdul Muis (Salah Asuhan, 1928), Marah Rusli (Siti Nurbaya,1922), Merari Siregar (Asab dan Sengsara, 1921), Muhammad Kasim (Pemandangan dalam Dunia Kanak-Kanak, 1928), dan Nur Sutan Iskandar (Apa Dayaku Karena Aku Perempuan, 1922; dan Salah Pilih, 1928). Menurut catatan Bakri Siregar (1964:69) dalam bukunya Sejarah Sastra Indonesia I (Jakarta: Akademi Sastra dan Bahasa Multatuli) antara tahun 1920 sampai tahun 1930 Balai Pustaka berhasil menerbitkan buku sastra sebanyak 15 judul buku. Karya sastra kelompok angkatan ini banyak melukiskan masalah adat istiadat daerah, khususnya menganhkut masalah perkawinan menurut adat. Sehubungan karya sastra yang dianggap puncak pada zaman itu adalah novel Siti Nurbaya, Angkatan Balai Pustaka disebut pula sebagai “Angkatan Siti Nurbaya”. Di luar para sastrawan yang menulis di Balai Pustaka, pada tahun 1920-an ada juga sastrawan lainnya yang menerbitkan karyanya di Fasco, majalah Jong Sumatra, dan majalah Panji Pustaka, antara lain, Muhammad Yamin (Indonesia Tumpah Darahku, 1928), Rustam Effendi (Percikan Permenungan, 1925; dan Bebasari, 1926), dan Sanusi Pane (Pancaran Cinta, 1926; Puspa Mega, 1927; dan Madah Kelana, 1930). Atas kenyataan seperti itu, Angkatan Balai Pustaka itu juga disebut sebagai “Angkatan 20”.

Angkatan Pujangga Baru adalah nama yang diberikan kepada sejumlah sastrawan yang menulis karya sastra dan terutama dimuatkan dalam majalah kebudayaan Pujangga Baru yang berciri semangat kebangsaan dan kemajuan kebudayaan. Majalah Pujangga Baru didirikan oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, terbit pertama tanggal 29 Juli 1933 hingga tahun 1942 karena dilarang terbit oleh Pemerintah Fasis Jepang. Setelah vakum beberapa tahun karena zaman Jepang dan revolusi fisik Indonesia, Sutan Takdir Alisyahbana berusaha menerbitkan kembali majalah itu pada tahun 1949 hingga tahun 1953. Sastrawan yang dikelompokan dalam Angkatan Pujangga Baru, antara lain, Sutan Takdir Alisyahbana (Layar Tekermbang, 1936; Dian yang Tak Kunjung Padam, 1932; Tebaran Mega, 1936; dan Anak Perawan di Sarang Penyamun, 1941), Amir Hamzah (Nyanyi Sunyi, 1937; dan Buah Rindu, 1941), Armijn Pane (Jiwa Berjiwa, 1939; dan Belenggu, 1940), J.E. Tatengkeng (Rindu Dendam, 1934), M. Ali Hasyimi (Dewan Sajak, 1940), Rifai Ali (Kata Hati, 1941), dan Samadi (Senandung Hidup, 1941). Nama Angkatan Pujangga Baru juga diperkuat tulisan H.B. Jassin dalam bukunya Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (Jakarta: Gunung Agung, 1962) dan Puajangga Baru: Prosa dan Puisi (Jakarta: Gunung Agung, 1963). Asmara Hadi yang banyak menulis pada tahun 1930-an di majalah Panji Masyarakat, Fikiran Rakyat, Panji Pustaka, Pelopor Gerindo, Pujangga Baru, dan Tujuan Rakyat, tetapi belum menerbitkan buku kumpulan sajak, juga dikelompokan ke dalam Angkatan Pujangga Baru oleh H.B. Jassin. Sehubungan para sastrawan ini tidak hanya menulis di majalah Pujangga Baru, tetapi mulai aktif menulis pada tahun 1930-an hingga masuknya penjajahan Jepang di Indonesia 1942, mereka dinamakan pula Angkatan 30.

Angkatan 45 adalah penamaan sekelompok sastrawan yang mulai aktif menulis di seputar meletusnya revolusi fisik Indonesia tahun 1945. Pada mulanya Angkatan 45 tidak ada hubungannya dengan kehidupan sastra. Nama Angkatan 45 dalam sastra Indonesia baru diperkenalkan oleh Rosian Anwar dalam majalah Siasat, 9 Januari 1949. Setelah tulisan Rosian Anwar itu terbit, disusul tulisan Sitor Situmorang (“Angkatan 45”) dan Chairil Anwar (“Angkatan 1945”) di lembaran Gelanggang majalah Siasat, 6 November 1949. Kelompok sastrawan ini menyatukan sikap dan pikirannya dalam lembaran “Gelanggang” majalah kebudayaan Siasat. Dasar konsepsi Angkatan 45 dirumuskan H.B. Jassin berdasarkan “Surat Kepercayaan Gelanggang” (bertarikh 18 Februari 1950 dan dipublikasikan di majalah Siasat pada 22 Oktober 1950). Sastrawan yang termasuk Angkatan 45, antara lain, Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, Sitor Situmorang, Usmar Ismail, Idrus, Achdiat Kartamihardja, Pramudya Ananta Toer, Harjadi S. Hartowardojo, dan Trisno Sumardjo. Pelopor Angkatan 45 adalah Chairil Anwar dengan karyanya Deru Campur Debu (1949) dan Kerikil Tajam yang Terempas dan yang Putus (1949). Hal ini diperkuat oleh H.B. Jassin dalam bukunya Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (Jakarta: Gunung Agung, 1956). Atas dasar kenyataan di atas, Angkatan 45 juga disebut sebagai “Angkatan Chairil Anwar” atau “Angkatan Gelanggang”.

Angkatan 66 adalah penamaan sekelompok sastrawan yang menulis pada tahun 1960-an yang diberikan oleh H.B. Jassin (“Angkatan 66: Bangkitnya Satu Generasi”) dalam majalah Horison Nomor II Tahun I, Agustus 1966. Pernyataan H.B. Jassin ini kemudian diperkuat dengan diikuti terbitnya buku Angkatan 66: Prosa dan Puisi (Jakarta: Gunung Agung, 1966). Menurut Jassin dalam bukunya tersebut bahwa sastra Angkatan 66 disemangati oleh kehendak menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945: Konsepsi Anmgkatan 66 adalah Pancasila. Namun, Satyagraha Hoerip dalam tulisannya “Angkatan 66 dalam Kesusastraan Kita” (Horison Nomor 6 tahun I, Desember 1966) menyatakan bahwa Angkatan 66 dalam sastra Indonesia lebih tepat belandaskan pada Manifes Kebudayaan yang dicetuskan dan ditandatangani oleh para sastrawan pada tahun 1963. Para sastrawan yang termasuk Angkatan 66, antara lain, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Mansur Samin, Hartojo Andangdjaja, Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, Slamet Sukirnanto, B. Soelarto, Ajip Rosidi, dan Bur Rasuanto

Angkatan 2000 adalah penamaan sekelompok sastrawan yang menulis seputar tahun 1990-an hingga awal tahun 2000 yang diberikan oleh Koorie Layun Rampan dalam bukunya Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Jakarta: Grasindo, 2000). Wawasan estetik Angkatan 2000 dalam sastra Indonesia diwakili oleh penulis Afrisal Malna (puisi), Seno Gumira Ajidarma (cerpen), dan Ayu Utami (novel). Menurut Korrie, sajak-sajak Afrisal melansir estetika interaksi massal, cerpen-cerpen Seno mengembangkan estetika narasi komikal, dan novel Ayu Utami menampakkan pola kolase yang meninggalkan berbagai warna, tokoh, peristiwa, dan menonjolkan kekuatan literer. Selain mereka bertiga yang mewakili wawasan estetik Angkatan 2000, para sastrawan yang masuk dalam Angkatan 2000 sastra indonesia, antara lain, Abidah El Khalieqy, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Nurullah, Ahmadun Yosi Herfanda, Arief B. Ptasetyo, A.s. Laksana, Bre Redana, Cecep Syamsul Hari, Dorothea Rosa Herliany, Gus Tf., Helvy Tiana Rosa, Jamal D. Rahman, Joko Pinurbo, Joni Atiadinata, Kriapur, Moh. Wan anwar, Nenden Lilis A., Oka Rusmini, Radar Panca Dahana, Soni Farid Maulana, Taufik Ikram Jamil, Triyanto Triwikromo, Wiji Thukul, Wowok Hesti Prabowo, Yanusa Nugroho, dan Yusrizal K.W.

Tidak ada komentar: