Selamat Datang

Selamat datang Saudara-saudaraku semuanya di blog "Puja-Puji" ini. Selamat menikmati, mencermati, dan mengoreksi sajian yang saya tampilkan dalam blog ini. Sekiranya Saudara berkenan memberi kritik, saran, komentar, dan masukan apa pun terhadap tampilan blog ini tentu saya merasa senang, bangga, dan terhormat, agar terjadi komunikasi dua arah. Silakan menuliskannya di tempat yang telah disediakan. Salam kami.

Selasa, 19 Januari 2010

Sastra Sufistik

SASTRA SUFISTIK
Sastra sufistik adalah ragam karya sastra yang mendapat pengaruh kuat dari sastra sufi atau sastra tasawuf, termasuk sistem pencitraannya, penggunaan lambang-lambang, dan metafora-metaforanya. Sastra sufistik biasanya mengandung nilai-nilai tasawuf, berisi pengalaman-pengalaman tasawuf, mengungkapkan kerinduan sastrawan akan Tuhan, hakikat hubungan makhluk dengan khalik, dan perilaku yang tergolong dalam pengalaman religius. Jadi, sastra sufistik mempunyai pertalian yang kuat dengan tasawuf dan sastra sufi karena tasawuf dan sastra sufi sebagai salah satu sumber ilham penulisan karya-karya baru yang dilahirkannya.
      Abdul Hadi W.M. dalam bukunya Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-esai Sastra Profetik dan Sufistik (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999) menyatakan bahwa sastra sufistik dapat disebut juga sebagai sastra transendental, karena pengalaman yang dipaparkan penulisnya ialah pengalaman transendental seperti ekstase, kerinduan dan persatuan mistikal dengan Yang Transenden. Pengalaman ini berada di atas pengalaman keseharian dan bersifat supralogis. Sementara itu, Bani Sudardi dalam bukunya Sastra Sufistik: Internalisasi Ajaran-ajaran Sufi dalam Sastra Indonesia (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003) menyatakan bahwa sastra sufistik adalah karya sastra yang mengandung ajaran sufi. Bani mencontohkan sastra sufistik dalam sastra Indonesia sudah ada sejak kepenyairan Amir Hamzah, Chairil Anwar, hingga ke Danarto pada tahun 1970-an.
      Abdul Hadi W.M lebih lanjut menyatakan bahwa kecenderungan sastra sufistik di Indonesia mulai semarak pada dasawarsa 1970-an hingga tahun 1980-an. Kecenderungan sastra sufistik ini mula-mula dipelopori oleh Danarto dengan gerakan “kembali ke akar, kembali ke sumber”. Pengikut gerakan ini menjadikan para sufi, seperti Al Hallaj, Fariduddin Attar, Ibn Arabi, Jalaludin Rumi. Hafiz, Sa’di, Hamzah Fansuri, dan Muhammad Iqbal, bahkan Sunan Bonang dan Syeh Siti Jenar, sebagai salah satu sumber penulisan karya sastra di Indonesia. Selain itu, mereka juga menghubungkan diri dengan sumber-sumber agama beserta sistem kepercayaan, peribadatan, dan bentuk-bentuk spiritualitasnya. Agama tidak mesti dipahami sebagai doktrin ketuhanan dan teologi, tetapi juga sebagai sistem yang mencakupu keseluruhan aspek kehidupan.
      Beberapa sastrawan Indonesia modern yang menulis sastra sufistik, antara lain, Danarto, Kuntowijoyo, Abdul Hadi W.M., M. Fudoli Zaini, dan Sutardji Calzoum Bachri. Danarto melalui buku kumpulan cerpennya Godlob, Adam Makrifat, dan Berhala; Kuntowijoyo melalui karyanya Khotbah di Atas Bukit (novel), Isyarat, dan Suluk Awang Uwung (kumpulan sajak); M. Fudoli Zaini dengan karyanya Arafah; Sutardji Calzoum Bachri dengan karyanya O Amuk Kapak (1981); Motinggo Busye dengan karyanya Sanu Infinita Kembar (1985); dan Abdul Hadi W.M. dalam kumpulan sajaknya Tergantung Pada Angin (1976) dan Anak Laut Anak Angin (1984), terutama sajaknya “Tuhan, Kita Begitu Dekat”, memperlihatkan kecenderungan sufistik yang bersifat mistikal dan supralogis (transenden sekaligus imenen).
      Ciri-ciri yang melekat pada karya sastra sufistik, menurut Abdul Hadi W.M., antara lain, (1) suatu gambaran upaya manusia untuk dapat bertunggal dengan Tuhan, yakni suatu jalan kerohanian menuju Tuhan yang berangkat dari ajaran tauhid Islam; (2) mencerminkan perenungan yang dalam dan keleluasan berpikir serta wawasan yang jauh tentang semesta raya seisinya; (3) dalam upaya mencari kebenaran, sastra sufistik memadukan antara zikir dan pikir secara sungguh-sungguh dan maksimal; (4) syarat dengan pesan pembebasan dan pencerahan jiwa yang terbelenggu dalam kegelapan dunia, dengan adanya pesan pembebasan dan pencerahan jiwa ini membuat sastra sufistik semacam profektik (kenabian) dan apokaliptik (kewahyuan); (5) memberi gambaran jarang yang menunjukkan pesimisme atau rasa putus asa dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, bahkan sering menyuarakan kegembiraan spiritual dan kearifan dalam menghadapi silau pesona dunia; (6) tidak pernah puas dengan aspek-aspek lahiriah dan apa yang telah dicapai oleh akal pikiran manusia, justru sastra sufistik mencari hakikat yang tersembunyi dalam rahasia alam dan kehidupan; dan (7) keindahan yang terpancar dalam sastra sufistik adalah keindahan-dalam yang transendental dan sekaligus imanen. Puncak pengalaman mistik selalu bersinggungan dengan pengalaman estetis.

Tidak ada komentar: